Kesehatan
Apa-apaan ini?
07/06/07 22:27
Huh! hari
yang panjang, sepanjang jalan menuju tempat bekerja.
Keliling harus memutar, tidak seperti jalan yang
biasanya ku lalui. Penuh trik dan intrik hari ini.
Jam 13.30 bergegas menuju tempat presentasi, mungkin
dosen telah menunggu lama, karena berangkat mepet
sekali. Ngantuk belum sepenuhnya meninggalkan mataku.
Tiba di Kampus yang ada hanyalah teman-teman yang menunggu dosen pula. Akhirnya jam 2 pun dimulai, setelah 30 menit menunggu (masih dalam batas toleransi). Mungkin karena aku telah merasakan sibuk tiap hari sehingga detik dan menit terasa begitu berarti. Untuk itu lah, sedikit cermin buat Indonesia yang masih saja memberlakukan jam karet, yang selalu saja molor (emang kolor?).
Tanpa panjang lebar, "Apa-apaan ini?" judul yang memang sampai sekarang aku masih bertanya-tanya. Kok bisa aku disangka bermain politis?Kekeke... lha apa aku tim sukses parpol? hihi... Ceritanya saat magang memang sampai sekarang kalo dipikir-pikir tiada arti. Cuma seperti anggapan teman-teman mahasiswa lain, "magang cumak waktu untuk mengekspoitasi mahasiswa". Hihi...meminjam ceplosan tadi...mangka memang sedikit yang bisa diambil hikmahnya dari prosesi magang di PT Askes waktu itu. Dengan tidak ada konsep dan alur yang jelas, seakan mahasiswa hanya meraba dan mencoba mengerti. Batasan-batasan yang mestinya ada dan bisa menjadi pegangan tidaklah dibuat. Seakan aku sebagai mahasiswa hanya berpikir dan berpikir. Apalagi memang sudah tidak menjadi impian untuk masa depan hihi...
Setelah jalan beberapa waktu, tibalah saat untuk membuat laporannya. Kata demi kata terketik bahkan tidak membohongi diri ada acara "copy paste" maklum mahasiswa sekarang, hihi... Setelah mengkoreksikan, kemauan dosen yang jika dipikir tidak bisa diterima dengan konsep magang seperti ntu. Saya ambil permasalahan penurunan peserta Asuransi sukarela atau komersial, setelah ada data dan diolah prospektif, kenapa harus meramu sebab-sebab yang harus butuh waktu, tenaga, upaya, uang untuk membuat laporan yang serba WAH? Ibarat berjalan ke kanan kok disuruh kekiri yang lebih lama? hihi... dasar dosen! Kayak ndak pernah mahasiswa saja? ato....pembalasan? (huz! ga usah negatif thinking!)
Kok cerita jadi begini... yuk kembali ke presentasinya... Saat presentasi, saya mencoba memberi masukan ke dosen tentang konsep magang. Memang, mahasiswa harus lebih aktif, tapi kalo batasan kagak ada gimana lagi? Lha emang seaktif dosen yang notabene mengaku pintar? hihi...
Saat bercerita nglantur dari tema yang saya angkat (karena suasana menggiring ke situ sih) saya membuka kenyataan pada saat saya megang. Prosesi seperti cerita diatas yang sangat busuk, halah lha po makanan (pas laper nih). Saat bertanya pada teman-teman yang lain dengan alasan mereka yang sudah saya dengar sebelumnya dan mengharap mereka berani ngomong ceplas ceplos tanpa harus nggremeng di belakang, kok malah saya di kira bermain politis. Mencoba membenarkan pendapat, lha memang kenyataan begitu harus apa lagi? Kok dosen ga bisa membuka kenyataan? Selalu saja berlindung dari ilmiah dan ilmiah...
Kapan mahasiswa bisa berkembang dari kenyataan dan kehidupan riil? Jika saja, dosen dan sistem pendidikan tidak mau membuka diri untuk menerima kritik? Selalu membenarkan pendapat dan hanya bisa memberi kritik buat mahasiswa yang hina dan bodoh ini. Hihi... Ketawa kelakar dalam hati, jika memang di terima sebagai kritik dan menjatuhkan, ya... maap. lha emang begitu e kenyataanya... kita harus bagaimana lagi!
Buat mahasiswa dan pelajar semua... Mari kita tanggalkan seragam kita! Belajarlah dari kenyataan dan lingkungan yang sebenarnya! Tanpa harus ada dogma dan lingkup pembelenggu! Bebaslah terbang dan luaskan pikir imajinasi, semoga kebenaran sejati dapat didapati dan bisa di yakini... Semua adalah pembelajaran!
Wuasyem, capek juga hari ini...plus "anggepan saya politisi, hihi enakan kalo jadi, banyak duit...halal ga ya?"
Tiba di Kampus yang ada hanyalah teman-teman yang menunggu dosen pula. Akhirnya jam 2 pun dimulai, setelah 30 menit menunggu (masih dalam batas toleransi). Mungkin karena aku telah merasakan sibuk tiap hari sehingga detik dan menit terasa begitu berarti. Untuk itu lah, sedikit cermin buat Indonesia yang masih saja memberlakukan jam karet, yang selalu saja molor (emang kolor?).
Tanpa panjang lebar, "Apa-apaan ini?" judul yang memang sampai sekarang aku masih bertanya-tanya. Kok bisa aku disangka bermain politis?Kekeke... lha apa aku tim sukses parpol? hihi... Ceritanya saat magang memang sampai sekarang kalo dipikir-pikir tiada arti. Cuma seperti anggapan teman-teman mahasiswa lain, "magang cumak waktu untuk mengekspoitasi mahasiswa". Hihi...meminjam ceplosan tadi...mangka memang sedikit yang bisa diambil hikmahnya dari prosesi magang di PT Askes waktu itu. Dengan tidak ada konsep dan alur yang jelas, seakan mahasiswa hanya meraba dan mencoba mengerti. Batasan-batasan yang mestinya ada dan bisa menjadi pegangan tidaklah dibuat. Seakan aku sebagai mahasiswa hanya berpikir dan berpikir. Apalagi memang sudah tidak menjadi impian untuk masa depan hihi...
Setelah jalan beberapa waktu, tibalah saat untuk membuat laporannya. Kata demi kata terketik bahkan tidak membohongi diri ada acara "copy paste" maklum mahasiswa sekarang, hihi... Setelah mengkoreksikan, kemauan dosen yang jika dipikir tidak bisa diterima dengan konsep magang seperti ntu. Saya ambil permasalahan penurunan peserta Asuransi sukarela atau komersial, setelah ada data dan diolah prospektif, kenapa harus meramu sebab-sebab yang harus butuh waktu, tenaga, upaya, uang untuk membuat laporan yang serba WAH? Ibarat berjalan ke kanan kok disuruh kekiri yang lebih lama? hihi... dasar dosen! Kayak ndak pernah mahasiswa saja? ato....pembalasan? (huz! ga usah negatif thinking!)
Kok cerita jadi begini... yuk kembali ke presentasinya... Saat presentasi, saya mencoba memberi masukan ke dosen tentang konsep magang. Memang, mahasiswa harus lebih aktif, tapi kalo batasan kagak ada gimana lagi? Lha emang seaktif dosen yang notabene mengaku pintar? hihi...
Saat bercerita nglantur dari tema yang saya angkat (karena suasana menggiring ke situ sih) saya membuka kenyataan pada saat saya megang. Prosesi seperti cerita diatas yang sangat busuk, halah lha po makanan (pas laper nih). Saat bertanya pada teman-teman yang lain dengan alasan mereka yang sudah saya dengar sebelumnya dan mengharap mereka berani ngomong ceplas ceplos tanpa harus nggremeng di belakang, kok malah saya di kira bermain politis. Mencoba membenarkan pendapat, lha memang kenyataan begitu harus apa lagi? Kok dosen ga bisa membuka kenyataan? Selalu saja berlindung dari ilmiah dan ilmiah...
Kapan mahasiswa bisa berkembang dari kenyataan dan kehidupan riil? Jika saja, dosen dan sistem pendidikan tidak mau membuka diri untuk menerima kritik? Selalu membenarkan pendapat dan hanya bisa memberi kritik buat mahasiswa yang hina dan bodoh ini. Hihi... Ketawa kelakar dalam hati, jika memang di terima sebagai kritik dan menjatuhkan, ya... maap. lha emang begitu e kenyataanya... kita harus bagaimana lagi!
Buat mahasiswa dan pelajar semua... Mari kita tanggalkan seragam kita! Belajarlah dari kenyataan dan lingkungan yang sebenarnya! Tanpa harus ada dogma dan lingkup pembelenggu! Bebaslah terbang dan luaskan pikir imajinasi, semoga kebenaran sejati dapat didapati dan bisa di yakini... Semua adalah pembelajaran!
Wuasyem, capek juga hari ini...plus "anggepan saya politisi, hihi enakan kalo jadi, banyak duit...halal ga ya?"
Preambule SPM akan Terwujud
05/06/07 23:48
Kesehatan
adalah hak asasi manusia. Sehat adalah jaminan
kehidupan yang lebih baik. Sehat adalah impian setiap
insan. Berbagai semboyan atau kata mutiara mengenai
sehat telah banyak kita dengar dan kita baca. Namun,
kapankah kita akan benar-benar menikmati kesehatan
yang bukan hanya bebas dari penyakit?
Kesehatan adalah hak asasi masnusia. Sehat adalah jaminan kehidupan yang lebih baik. Sehat adalah impian setiap insan. Berbagai semboyan atau kata mutiara mengenai sehat telah banyak kita dengar dan kita baca. Namun, kapankah kita akan benar-benar menikmati kesehatan yang bukan hanya bebas dari penyakit?
Kebijakan kesehatan yang telah banyak bermunculan tidak membawa dampak kemajuan derajat kesehatan manusia. Kebijakan yang selama ini salah arah dan hanya dijadikan permainan petinggi negara mengakibatkan penderitaan masyarakat sebagai kaum lemah. Standar Pelayanan Minimal yang konon katanya menjadikan bidang kesehatan terkenal karena memang satu-satunya instansi yang memiliki standar pelayanan pada masyarakat sampai detik ini pun tidak membawa dampak pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat. SPM yang merupakan singkatannya menjadi tolok ukur apakah masyarakat telah menikmati kesehatan yang benar-benar sehat. Berapa uang yang telah dikeluarkan untuk membangun kebijakan ini? Mulai dari sosialisai hingga realisasi?
Tak banyak masyarakat tahu apa itu SPM. Katanya sih, SPM itu menjadi tanggung jawab kita bersama namun apa itu SPM saja masyarakat tidak tahu. Sehingga apa untungnya diadakan kebijakan SPM? dari mana SPM bisa berhasil guna dan berdaya guna jika kita tidak tahu apa-apa tentang itu?
Pada seminar manajemen yang diadakan FKM UNDIP Semarang, pembahasan SPM panjang lebar. Namun dari panjang dan lebar itu seakan-akan SPM akan berjalan ruwet dab ribet. Berputar-putar yang tidak akan ada ujungnya. Mulai dari Departemen Kesehatan yang merancang, Dinas Kesehatan Propinsi yang mensosialisasikan, Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten yang membimbing, Masyarakat yang melaksanakan, Bupati dan Gubernur yang bertanggung jawab semua itu akan berputar dan tidak akan ada siapa yang sebenarnya bertanggung jawab. Pembicara mengakui bahwa Gubernur saja tidak tahu banyak tentang SPM, lantas kenapa Gubernur yang bertanggung jawab? Beberapa kesalahan telah kita temukan. Kembali kepertanyaan judul, Apakah Standar Pelayana Minimal akan terwujud? jika saja sistem tidak diubah secara teratur dan memang sesuai kondisi.
Sosialisasi SPM dimasyarakat menjadi kendala Dinas Kesehatan. Alasan yang muncul adalah, ketika masyarakat tahu hak mengenai kesehatan, Dinas Kesehatan akan keberatan untuk merealisasikan. Dlam singkat kata, Dinas Kesehatan minder jika masyarakat menuntut hak mereka. Sudah menajadi kewajiban Dinas Kesehatan untuk bersama-sama masayarakt membangun peingkatan derajat kesehatan. Namun kenapa tidak berani?
Memang jika dipikir ini akan sulit, akan tetapi jika tidak berani untuk melangkah kapan lagi? Masyarakat akan terus menunggu dan menunggu, Dinas Kesehatan akan terus berpikir dan berpikir bahkan tidak menutup kemungkinan ada juga yang memanfaatkan proeses ini. Memang harus ada perubahan, karena moral Bangsa Indonesia telah hancur, tidak sesuai dengan pancasila yang selama ini kita agung-agungkan. Kapan lagi ada perubahan?
Kesehatan adalah hak asasi masnusia. Sehat adalah jaminan kehidupan yang lebih baik. Sehat adalah impian setiap insan. Berbagai semboyan atau kata mutiara mengenai sehat telah banyak kita dengar dan kita baca. Namun, kapankah kita akan benar-benar menikmati kesehatan yang bukan hanya bebas dari penyakit?
Kebijakan kesehatan yang telah banyak bermunculan tidak membawa dampak kemajuan derajat kesehatan manusia. Kebijakan yang selama ini salah arah dan hanya dijadikan permainan petinggi negara mengakibatkan penderitaan masyarakat sebagai kaum lemah. Standar Pelayanan Minimal yang konon katanya menjadikan bidang kesehatan terkenal karena memang satu-satunya instansi yang memiliki standar pelayanan pada masyarakat sampai detik ini pun tidak membawa dampak pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat. SPM yang merupakan singkatannya menjadi tolok ukur apakah masyarakat telah menikmati kesehatan yang benar-benar sehat. Berapa uang yang telah dikeluarkan untuk membangun kebijakan ini? Mulai dari sosialisai hingga realisasi?
Tak banyak masyarakat tahu apa itu SPM. Katanya sih, SPM itu menjadi tanggung jawab kita bersama namun apa itu SPM saja masyarakat tidak tahu. Sehingga apa untungnya diadakan kebijakan SPM? dari mana SPM bisa berhasil guna dan berdaya guna jika kita tidak tahu apa-apa tentang itu?
Pada seminar manajemen yang diadakan FKM UNDIP Semarang, pembahasan SPM panjang lebar. Namun dari panjang dan lebar itu seakan-akan SPM akan berjalan ruwet dab ribet. Berputar-putar yang tidak akan ada ujungnya. Mulai dari Departemen Kesehatan yang merancang, Dinas Kesehatan Propinsi yang mensosialisasikan, Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten yang membimbing, Masyarakat yang melaksanakan, Bupati dan Gubernur yang bertanggung jawab semua itu akan berputar dan tidak akan ada siapa yang sebenarnya bertanggung jawab. Pembicara mengakui bahwa Gubernur saja tidak tahu banyak tentang SPM, lantas kenapa Gubernur yang bertanggung jawab? Beberapa kesalahan telah kita temukan. Kembali kepertanyaan judul, Apakah Standar Pelayana Minimal akan terwujud? jika saja sistem tidak diubah secara teratur dan memang sesuai kondisi.
Sosialisasi SPM dimasyarakat menjadi kendala Dinas Kesehatan. Alasan yang muncul adalah, ketika masyarakat tahu hak mengenai kesehatan, Dinas Kesehatan akan keberatan untuk merealisasikan. Dlam singkat kata, Dinas Kesehatan minder jika masyarakat menuntut hak mereka. Sudah menajadi kewajiban Dinas Kesehatan untuk bersama-sama masayarakt membangun peingkatan derajat kesehatan. Namun kenapa tidak berani?
Memang jika dipikir ini akan sulit, akan tetapi jika tidak berani untuk melangkah kapan lagi? Masyarakat akan terus menunggu dan menunggu, Dinas Kesehatan akan terus berpikir dan berpikir bahkan tidak menutup kemungkinan ada juga yang memanfaatkan proeses ini. Memang harus ada perubahan, karena moral Bangsa Indonesia telah hancur, tidak sesuai dengan pancasila yang selama ini kita agung-agungkan. Kapan lagi ada perubahan?
