Monggo mampir...

What happen with my mind?

Sekarang saat berpikir tentang kehidupan. Kini mencoba berdiri pada posisi di luar batas kewajaran. Namun masih dalam lingkup kewajaran. Perut terasa melilit lapar, kerongkongan kering kehausan, pikiran mulai gundah dan gelisah, otot leherpun mulai tegang hingga terasa pusing dan berkunang-kunang. Jemari tak kalah dalam perannya, mulai bergetar dan terasa kesemutan, sedikit saja mengangkat HP sudah tak kuat. Bibir kering meretak, dan nafas mulai tidak teratur.
Dalam keadaanku, mencoba berpikir tentang pikiran. Bagaimana hidup ini? Bagaimana kesalahan dan kebenaran ini? I try to wake up my mind, my emotion, my fear, my love, freedom, and my dreams. Semua pikir terangkai satu mencoba berhubungan dengan kewajaran. Penghargaan, penghormatan, penerimaan sisi positif yang mencoba melingkupi, kemunafikan, ketidakpercayaan, kemurkaan, kekuasaan, kekerasan sisi negatif mencoba menerobos masuk. Keadaan goyah jiwa dan raga ingin mencoba berontak namun terasa tak kuat. Tiada daya dan upaya. Tenaga habis, kondisi tubuhpun sulit bergerak. Di saat ini, hanya kekuatan iman dan pikiran berperan di dalamnya. Mencoba bangkit dan menemukan jati diri. Aku ini siapa? Kenapa aku ini? Untuk apa begini? hingga What happen with my mind?

Kesalahan yang telah dilakukan satu per satu diakui, keterbatasan berderet berbaris menghampiri, jiwa sosial memaafkan, penghargaan kemanusiaan, dan kepercayaan mulai datang. Namun dalam konteks pikiranku. Persepsiku yang mungkin berbeda dengan yang lain. This is my life, this is my choices...
Benarkah jika aku membatasi orang lain? Benarkah jika kita dibatasi orang lain? Ekspressi masing-masing diri? Apakah kebenaran itu? Manakah yang benar? Mencoba menerbangkan pikiran mencari kebebasan... mencoba berlari dari gundah, gelisah, takut, dan ancaman...inikah hidup? Mengapa ini terjadi? Karena nafsu manusia? Karena tidak ada saling menerima? Kapan kebebasan manusia ada? Kebebasan fikir? Hingga menemukan kebenaran sejati?
Sidartha membebaskan diri dengan berdiam diri dan menyepi, Anak kecil membebaskan diri dengan bermain, Seniman membebaskan diri dengan menggambar, menulis, merangkai kata, menari, atau diam. Banyak cara orang untuk dapat membebaskan diri. Berteriak, menangis menitihkan air mata, diam, tertawa, menghela nafas, tidur, makan dan minum hingga pergi menjauhi keramaian.
Kemanakah kebebasan? Mengapa manusia tidak bisa bebas? Bebas tidak mengganggu?
Pertanyaan yang muncul dalam kehidupan. Bagiku, Aku akan membiarkan orang memilih apa yang mereka percayai, namun aku juga berkewajiban memberi sedikit kebenaran yang aku yakini, tanpa ada paksaan...

Gemar membaca dari mana?

Buku berjajar, bertumpuk terlihat rusuk dan bau. Warna coklat mulai memudar ke sela kertas dalam buku. Serangga laba-laba ibarat spiderman bersarang di pojokan rak. Terlihat sepi dan suram... Sedikit potret perpustakaan di Indonesia, beda dengan perpustakaan kampusku, ramai dengan cemoohan, ramai dengan caci maki penjaganya. Sudah bukunya kuno, ruangan yang tidak bersahabat, peraturan yang apapun itu harus dipatuhi, mulai dari tidak boleh membawa buku, tidak boleh berisik, tidak boleh makan, harus menunjukkan kartu hingga para penjaga yang terkesan angker.
Bagaimana bisa senang membaca jika perpustakaan yang notabene gudang ilmu sedemikian... Malah-malah mahasiswa ogah ke perpustakaan. Hhmm... sebaiknya bagaimana yah? Kalo buku ga di Update, dan kuno-kuno apakah massih relevan dengan jaman sekarang? Jika mau baca tapi harus beli, mahal je... Sungguh sulit, entah dipersulit...
Kok kelihatannya hidup sedemikian suramnya? Siswa belajar begitu, Dewasa, kerja gitu... Sekadar potret suram Indonesia... Sudahlah, seperti hukum rimba sajah...siapa kuat mereka menang...

Celoteh Tentang Pendidikan

Mulai dari kecil kita telah mendapatkan pendidikan. Saat membuka mata pendidikan kasih dan sayang orang tua bisa kita rasakan hingga sampai detik ini. Semakin kita tumbuh, pendidikan semakin tinggi dan luas. Namun apakah kita sadar bahwa pendidikan dapat mempengaruhi kita jika kita tidak dapat memilah dan memilih?
Mulai dari kecil kita telah mendapatkan pendidikan. Saat membuka mata pendidikan kasih dan sayang orang tua bisa kita rasakan hingga sampai detik ini. Semakin kita tumbuh, pendidikan semakin tinggi dan luas. Namun apakah kita sadar bahwa pendidikan dapat mempengaruhi kita jika kita tidak dapat memilah dan memilih?
Saat kita duduk di bangku taman kanak-kanak kita mendapat pelajaran dengan cara bermain. Hingga kita dapat tertawa, diam, senyum, teriak bahkan menangis. Pelajaran mengajarkan moral sebagai anak kecil. Agar kelak dewasa memiliki moral dan budi pekerti yang baik. Tak jauh beda beberapa awal tahun kita duduk di bangku sekolah dasar. Pendidikan moral dan mulai ke ilmiah.
Namun, kurikulum pendidikan Indonesia memiliki tujuan untuk mengajarkan masyarakat Indonesia dari usia dini tentang dasar yang menjadi landasarn atau yang dianggap benar oleh Indonesia. Kita tidak dapat berpikir leluasa mengenai sebuah sistem atau konsep lain. Pernahkah kita merasa bahwa selain dasar negara Indonesia itu salah bahkan hingga membenci? Sebuah pandangan bagaimana anggapan kita antara Pancasila dan Komunisme? Tentunya kita menganggap pancasila yang baik dan langsung menganggap komunisme adalah ajaran salah. Ajaran yang tidak bertuhan dan salah. Namun apakah dalam kehidupan nyata kita menemukan mana yang benar?
Tidak hanya pada saat kita dalam usia dini atau muda. Ketika kita berusia dewasa pun doktrinasi terhadap pemikiran kita masih saja ada. Pikiran kita tidak dapat bebas dan mencoba menemukan teori dan konsep pikir lain yang relatif benar. Relatif dalam arti menurut pemikiran masing-masing. Kita tidak dapat memaksakan kehendak pada tiap manusia. Kerangkeng yang membelenggu pemikiran masyarakat Indonesia menjadikan tidak ada perkembangan. Hanya ini dan ini saja.
Belajar tidak hanya dalam ruang lingkup bangku sekolah. Belajar adalah proses mengerti alam dan lingkungan. Tidak hanya teori dari balik buku. Penemuan dan penemuan harus menjadi dasar berpikir. Menjadikan masyarakat mulai dari tidak tahu menuju proses tahu dan mengerti.
Mulai kapan kita akan bebas? dengan konsep pendidikan yang masih saja seperti saat ini? Ketidakupdatean teori oleh pendidik, kepasifan pikiran oleh siswa didik, dan keterbatasan fasilitas oleh negara. Kapan Indonesia berubah? berubah dari pendidikan yang merupakan landasan?

Apa Arti Kepercayaan?

Jaman yang semakin modern dan penuh intrik, mengajak manusia untuk berpikir amburadul. Berpikir simpel untuk mendapatkan hasil yang maksimal tanpa memperhatikan lingkungan sekitar. Apakah ini yang merusak jiwa dan pikiran manusia?
Jaman yang semakin modern dan penuh intrik, mengajak manusia untuk berpikir amburadul. Berpikir simpel untuk mendapatkan hasil yang maksimal tanpa memperhatikan lingkungan sekitar. Apakah ini yang merusak jiwa dan pikiran manusia?
Kebobrokan moral sangat tidak dapat ditolerir, hingga berujung pada pengkhianatan. Kepercayaan yang bersumber murni dari hati manusia kini semakin memudar. Seiring jalan yang kian bergelombang dan penuh dengan kerikil tajam. Manusia semakin berani untuk mengkhianati kepercayaan. Padahal sulit untuk merangkai dan membangun kepercayaan antar manusia. Mulai dari pemimpin membodohi anak buahnya, hingga anak buah yang tidak nurut pada pemimpin. Semua kian merajalela...
Tak khayal hingga pada ketidakpercayaan pada Alloh, dengan tidak menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Banyak sekali manusia yang mengacuhkan Sang Kuasa Alam. Tidak takut sama sekali. Lebih baik menyenangkan diri sendiri pada dunia yang notabene hanya sebentar. Berakar dari ketidakpercayaan pada Alloh berlanjut pada pengkhianatan pada sesama manusia yang berujung pada kerusakan lingkungan.
Sungguh bagiku, kepercayaan adalah modal. Dimana kita mengenal dan merangkai jaringan persahabatan hingga jaringan pekerjaan. Kepercayaan melebihi uang yang didapat, karena dibalik itu kepercayaan terselip nilai yang bagiku begitu mulia dan luhur. Nilai untuk mencintai, menghargai, meluangkan waktu, memberi, mengasihi, hingga pada mempercayai.
Kapan lagi manusia bisa sadar? kapan lagi kita memperbaiki? hanya hati kita yang bisa menjawadnya....
Free Web Hosting