What happen with my mind?
What happen with my mind?
09/06/07 01:36 Filed in: Umum
Sekarang saat berpikir tentang kehidupan. Kini
mencoba berdiri pada posisi di luar batas kewajaran.
Namun masih dalam lingkup kewajaran. Perut terasa
melilit lapar, kerongkongan kering kehausan, pikiran
mulai gundah dan gelisah, otot leherpun mulai tegang
hingga terasa pusing dan berkunang-kunang. Jemari tak
kalah dalam perannya, mulai bergetar dan terasa
kesemutan, sedikit saja mengangkat HP sudah tak kuat.
Bibir kering meretak, dan nafas mulai tidak teratur.
Dalam keadaanku, mencoba berpikir tentang pikiran. Bagaimana hidup ini? Bagaimana kesalahan dan kebenaran ini? I try to wake up my mind, my emotion, my fear, my love, freedom, and my dreams. Semua pikir terangkai satu mencoba berhubungan dengan kewajaran. Penghargaan, penghormatan, penerimaan sisi positif yang mencoba melingkupi, kemunafikan, ketidakpercayaan, kemurkaan, kekuasaan, kekerasan sisi negatif mencoba menerobos masuk. Keadaan goyah jiwa dan raga ingin mencoba berontak namun terasa tak kuat. Tiada daya dan upaya. Tenaga habis, kondisi tubuhpun sulit bergerak. Di saat ini, hanya kekuatan iman dan pikiran berperan di dalamnya. Mencoba bangkit dan menemukan jati diri. Aku ini siapa? Kenapa aku ini? Untuk apa begini? hingga What happen with my mind?
Kesalahan yang telah dilakukan satu per satu diakui, keterbatasan berderet berbaris menghampiri, jiwa sosial memaafkan, penghargaan kemanusiaan, dan kepercayaan mulai datang. Namun dalam konteks pikiranku. Persepsiku yang mungkin berbeda dengan yang lain. This is my life, this is my choices...
Benarkah jika aku membatasi orang lain? Benarkah jika kita dibatasi orang lain? Ekspressi masing-masing diri? Apakah kebenaran itu? Manakah yang benar? Mencoba menerbangkan pikiran mencari kebebasan... mencoba berlari dari gundah, gelisah, takut, dan ancaman...inikah hidup? Mengapa ini terjadi? Karena nafsu manusia? Karena tidak ada saling menerima? Kapan kebebasan manusia ada? Kebebasan fikir? Hingga menemukan kebenaran sejati?
Sidartha membebaskan diri dengan berdiam diri dan menyepi, Anak kecil membebaskan diri dengan bermain, Seniman membebaskan diri dengan menggambar, menulis, merangkai kata, menari, atau diam. Banyak cara orang untuk dapat membebaskan diri. Berteriak, menangis menitihkan air mata, diam, tertawa, menghela nafas, tidur, makan dan minum hingga pergi menjauhi keramaian.
Kemanakah kebebasan? Mengapa manusia tidak bisa bebas? Bebas tidak mengganggu?
Pertanyaan yang muncul dalam kehidupan. Bagiku, Aku akan membiarkan orang memilih apa yang mereka percayai, namun aku juga berkewajiban memberi sedikit kebenaran yang aku yakini, tanpa ada paksaan...
Dalam keadaanku, mencoba berpikir tentang pikiran. Bagaimana hidup ini? Bagaimana kesalahan dan kebenaran ini? I try to wake up my mind, my emotion, my fear, my love, freedom, and my dreams. Semua pikir terangkai satu mencoba berhubungan dengan kewajaran. Penghargaan, penghormatan, penerimaan sisi positif yang mencoba melingkupi, kemunafikan, ketidakpercayaan, kemurkaan, kekuasaan, kekerasan sisi negatif mencoba menerobos masuk. Keadaan goyah jiwa dan raga ingin mencoba berontak namun terasa tak kuat. Tiada daya dan upaya. Tenaga habis, kondisi tubuhpun sulit bergerak. Di saat ini, hanya kekuatan iman dan pikiran berperan di dalamnya. Mencoba bangkit dan menemukan jati diri. Aku ini siapa? Kenapa aku ini? Untuk apa begini? hingga What happen with my mind?
Kesalahan yang telah dilakukan satu per satu diakui, keterbatasan berderet berbaris menghampiri, jiwa sosial memaafkan, penghargaan kemanusiaan, dan kepercayaan mulai datang. Namun dalam konteks pikiranku. Persepsiku yang mungkin berbeda dengan yang lain. This is my life, this is my choices...
Benarkah jika aku membatasi orang lain? Benarkah jika kita dibatasi orang lain? Ekspressi masing-masing diri? Apakah kebenaran itu? Manakah yang benar? Mencoba menerbangkan pikiran mencari kebebasan... mencoba berlari dari gundah, gelisah, takut, dan ancaman...inikah hidup? Mengapa ini terjadi? Karena nafsu manusia? Karena tidak ada saling menerima? Kapan kebebasan manusia ada? Kebebasan fikir? Hingga menemukan kebenaran sejati?
Sidartha membebaskan diri dengan berdiam diri dan menyepi, Anak kecil membebaskan diri dengan bermain, Seniman membebaskan diri dengan menggambar, menulis, merangkai kata, menari, atau diam. Banyak cara orang untuk dapat membebaskan diri. Berteriak, menangis menitihkan air mata, diam, tertawa, menghela nafas, tidur, makan dan minum hingga pergi menjauhi keramaian.
Kemanakah kebebasan? Mengapa manusia tidak bisa bebas? Bebas tidak mengganggu?
Pertanyaan yang muncul dalam kehidupan. Bagiku, Aku akan membiarkan orang memilih apa yang mereka percayai, namun aku juga berkewajiban memberi sedikit kebenaran yang aku yakini, tanpa ada paksaan...
